Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Responsive Advertisement

Mualem Maju Calon Gubernur, Pengamat : Partai Aceh Belum Punya Jurus Jitu Selain Isu MoU Helsinky | PikiranSaja.com

 


PIKIRANSAJA.COM - Publik Aceh kembali ramai saat sebuah media memberitakan bahwa Muzakir Manaf berencana mengandeng Ramli MS sebagai pendampingnya calon wakil Gubernur pada Pilkada tahun 2024 nanti. Partai Aceh jauh-jauh hari sudah mendeklarasikan Muzakir Manaf (Mualem) sebagai calon gubernur pada pilkada tahun 2024 nanti, untuk wakilnya belum ada dan belum diputuskan. 

Atas pemberitaan tersebut, tentu ada pro dan kontra, terkait duet pasangan Mualem dan Ramli, MS. Khusus para simpatisan Partai Aceh, namun itu hal yang biasa dalam ruang demokrasi. Namun menjelang sehari kemudian juru bicara Partai Aceh mengklarifikasi bahwa penentuan calon wakil gubernur mendampingi Mualem belum final dan belum ada keputusan Partai Aceh. Hingga akhirnya isu ini, tidak lagi menjadi hangat.

Partai Aceh dan Mualem sudah istiqomah maju merebut kursi nomor satu Aceh pada pilkada tahun 2024. Partai lain sepertinya masih malu-malu dan belum pede saja. Memang baru-baru ini muncul dari Partai nasional (PKS) yaitu M. Nasir Jamil,  namun masih malu-malu. 

Partai Aceh sejak tahun 2020 sudah mendeklarasikan Mualem sebagai calon Gubernur Aceh, dan ini sudah final, tidak ada nilai tawar lainnya.  Namun sejak di deklarasikan Mualem sebagai calon gubernur, kita belum melihat visi masa depan Aceh, dan program program unggulan Aceh keluar dari berbagai ketinggalan dengan Propinsi lain. Partai Aceh masih berkutat pada isu-isu MOU, dan berbagai turunan implementasi UUPA. Padahal dalam berbagai turunan tersebut perlu disiapkan program-program skala periotas Aceh masa depan, yang selanjutnya dijual pada rakyat. 

Seharusnya skala periotas harus disiapkan bila Aceh berakhir anggaran DOKA/Otsus. Karena dampak berakhir anggaran otsus tersebut sangat besar, dan ini harusnya menjadi dasar pijakan agar masa depan Aceh agar tetap mampu keluar dari kemiskinan, dan mendapatkan kesejahteraan. Calon gubernur sudah harus punya obat jitu, agar Aceh terobati dan sembuh kembali dari sakit, kembali bangkit biarpun dana otsus berakhir.  Harus ada konsep, dan visi yang jelas, agar masa depan Aceh yang dicita citakan para syuhada tercapai. 

Partai Aceh pilkada/pileg tahun 2024, juga harus menjadi pertimbangan, karena ini masa-masa sulit, tentu menjadi pertarungan hebat untuk mampu merebut kembali hati rakyat Aceh. Bila hati rakyat Aceh tidak lagi bersama dengan Partai Aceh,  tentu akan menjadi dilematis, pastinya kekuatan politik lokal runtuh, tanpa lagi bargaining dengan pemerintah pusat. Pada akhirnya apa yang diperjuangkam selama ini menjadi sia-sia. 

Menjadi PR besar buat Partai Aceh, pada Pileg/Pilkada 2024 pemilih bukan lagi rakyat Aceh ideologis, namun rakyat Aceh milinial yang sangat sedikit memahami sejarah perjuangan Aceh, tentu bakal sangat sulit buat Partai Aceh untuk menyakinkan mereka memilih Partai Aceh dan kader Partai Aceh. 

Maka sudah seharusnya Partai Aceh tidak lagi anggap dirinya sebagai kekuatan lokal saat ini, bila sampai saat ini masih belum melakukan reformasi internal, termasuk pengkaderan, agar berbagai dampak yang akan terkadi bisa di antisipasi dan masa depan partai Aceh masih tetap menjadi pilihan hati rakyat Aceh. 


Penulis : Rq

Post a Comment

0 Comments