Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Responsive Advertisement

Es Campur Mbah Said, Melegenda Sejak 1954 | PikiranSaja.com

PIKIRANSAJA.COM - Batu, tepat di tepi Jl. Gajah Mada Kota Batu, seringkali terlihat pria paruh baya yang selalu mengenakan peci, lengkap dengan kemeja batik andalannya. Persis di sebelah barat Masjid An Nur, tampak sebuah lapak sederhana, dengan gerobak berukuran besar hasil garapannya sendiri. Terdapat beberapa bangku panjang yang mengelilingi, dan tenda yang meneduhi dari teriknya matahari. Ia adalah Muhammad Said (83), atau yang lebih akrab di sapa Mbah Said. Ia merupakan warga asli Kota Batu yang berjualan Es Campur. 

Langkah kaki PIKIRANSAJA.COM dalam wawancara lelaki lima cucu ini, dia mengatakan “Dari dulu kalau penggusuran, saya tidak pernah melawan. Saya kan hanya menumpang dilahan Pemkot Batu ini”.

Dengan detailnya, Said menceritakan ia telah berjualan selama 67 tahun, tepatnya sejak 7 Agustus 1954. Sejak dulu, ia selalu berpindah-pindah dengan gerobaknya karena tidak memiliki lahan tetap. Mulai dari keliling alun-alun, lalu pindah ke dalam pasar alun-alun tapi kemudian pasar tersebut terbakar taun 1985, sampai akhirnya ia menetap di tempat yang sekarang. Buka mulai pukul 09.00 pagi, Said bisa berjualan sampai jam 10.00 bahkan 12.00 malam. 

“Dulu waktu usia saya 16 tahun, saya kepingin nikah. Terus ibu saya nanya apakah sudah punya teman hidup? Kalau jaman dulu teman hidup itu artinya pekerjaan dan kebetulan saat itu saya belum punya. Akhirnya, saya dikasih modal 1000 rupiah buat usaha” ungkap suami Kasiatun tersebut.

Awalnya ia bingung harus memulai usaha apa untuk membiayai pernikahannya tersebut. Kala itu, ia memiliki teman yang berjualan es, tiba-tiba saja terlintas dipikirannya untuk ikut berjualan es campur, karena terlihat segar menurutnya. Temannya tersebut tak sungkan untuk mengajarkannya. Satu persatu kebutuhan dagangan telah terbeli, dari toples, mangkok, hingga bahan-bahan es campur tersebut. Setelah semua telah beres disiapkan, Said pun merakit gerobak yang menemani berjualan di masa itu.

Es campur pertamanya dijual seharga 50 sen masa itu. Sesampai dipenghujung tahun 50an, ia menaikan harganya menjadi 75 sen. Soal harga, Said tak terlalu mempermasalahkan. Terkadang, ia juga memberi es buatannya itu secara cuma-cuma ke anak sekolahan yang ingin membeli. Yang terpenting, orang-orang dapat menikmati minuman buatannya tersebut. Kini, harga minuman tersebut sudah ditetapkan seharga 5000 rupiah. 

Di meja lengkap tersedia bahan-bahan es campur, seperti roti, mutiara, agar-agar, kacang hijau, ketan hitam, gula cair, sirup merah, dan susu kental manis. Said masih menggunakan serutan es batu secara manual. Terlihat tangannya yang bergetar saat memarut es batu, tak lupa ia selalu memastikan semua bahan telah lengkap. Terkadang, ia suka tiba-tiba menambahkan bahan ke mangkok pembeli, jika dilihatnya mulai habis. 

“Kerja itu harus semangat, sabar, ikhlas, dan jangan bermalas-malasan. Tapi, karena sepi seperti ini saya bukanya sesuka hati” ucapnya sambil tertawa.

Akan tetapi, sejak situasi pandemi Said memilih tutup lebih cepat karena sepi pembeli. Normalnya Said dapat menghabiskan 400 porsi dalam sehari, namun angka tersebut terus menurun sejak awal tahun. Saat ini, ia hanya mampu menjual 20 sampai 40 porsi saja. Bahkan, tak sampai pukul 04.00 sore Said biasanya sudah pulang kerumahnya. Menurutnya, itu pilihan terbaik daripada buang-buang tenaga tak ada pembeli. 

Lanjut said, Alasan Saya tetap bertahan berjualan sampai sekarang, karena banyak pelanggan yang menggemari es campur buatannya. Bahkan, beberapa pembelinya yang tinggal di luar kota, tak pernah lupa mengunjunginya saat berada di Malang. Ia bercerita dulu mantan Walikota Batu, Eddy Rumpoko, juga merupakan salah satu pelanggan setianya. Eddy selalu mampir di sela waktu luangnya, hanya untuk menyantap es campurnya.“Beliau sering menemani saya berjualan dan duduk di pojok sini sambil bersembunyi, biar tak terlihat warga. Kadang sampai malam, saya masih ditungguin” tuturnya sambil tersenyum mengingat masa itu.

Semua orang tau, Said selalu menyambut hangat para pembelinya, bahkan ia tak malu meminta maaf jika pelanggan dibuatnya menunggu lama. Kisah-kisah yang ia ceritakan tentang hidupnya, selalu menjadi pencair suasana saat mampir minum es disana. Menurutnya, walau tak punya toko besar untuk menetap tak masalah. Selama ini ia sudah menjalani hidup dengan baik dan tak menyusahkan orang-orang.



Penulis : (Rq) 

Post a Comment

0 Comments